PREVIEW LIGA CHAMPIONS: JUVENTUS VS REAL MADRID OLAHRAGA

 Juve dan Madrid, siapakah pemenang Liga Champions musim ini?

Caption: Juve dan Madrid, siapakah pemenang Liga Champions musim ini?

Juventus dan Real Madrid bakal jalani duel hidup-mati demi rengkuh gelar Liga Champions musim 2016/17, di Cardiff Stadium, Wales, Minggu (4/6) dini hari WIB.

Keduanya memang telah menegaskan kelasnya di level teratas Eropa dalam beberapa musim terakhir. Jika ini jadi final kedua dalam tiga musim terakhir untuk Juve, Madrid jalani final ketiganya dalam empat musim terakhir.

Berbagai faktor mendetail akan mempengaruhi hasil akhir pertandingan akbar ini. Satu hal yang patut khalayak sepakbola syukuri adalah Juve dan Madrid siap turun dengan kekuatan terbaiknya.

Sehingga detail kecil dalam elemen taktikal akan miliki pengaruh paling besar untuk menentukan siapa yang layak jadi kampiun Liga Champions musim ini.


Juventus diprediksi akan mempertahankan formasi andalan 4-2-3-1. Skema yang baru pelatihnya, Massimiliano Allegri, terapkan di awal 2017 ini membuat Si Nyonya Tua bangkit secara luar biasa hingga berpotensi raih treble winners musim ini.

Bermain dengan memanfaatkan lebar lapangan melalui dua wing-back dan winger-nya, jadi kunci betapa mematikannya formasi ini. Namun satu hal yang lebih vital adalah bagaimana skema tersebut bertransisi jadi 3-4-1-2 ketika Juve harus bermain lebih defensif.

Karenanya elemen kejutan di final nanti tampak bakal diberikan Allegri dengan menurunkan Andrea Barzagli sebagai bek kanan, kaitannya untuk menutup eksplosivitas bek sayap Madrid. Dengan begitu Dani Alves akan berperan sebagai winger, yang nantinya bisa bertransformasi menjadi wing-back atau fullback. Juan Cuadrado yang biasa tempati pos winger kanan bakal dikorbankan, untuk duduk di bangku cadangan.

Gol cepat bakal jadi incaran utama, menilik efektivitas Juve yang sanggup mencetak 71 persen gol-nya di 22 menit awal laga. Jika berhasil I Bianconeri bisa lebih nyaman bertahan, yang jadi senjata utama mereka di Liga Champions musim ini, dengan baru kebobolan tiga gol.

Melihat segala situasi timnya, keyakinan untuk jadi juara pun didengungkan Allegri. "Juve harus jadi juara kali ini. Kami lebih baik, lebih berpengalaman, dan jauh lebih haus dibanding final dua musim lalu. Madrid jelas bukan lawan mudah bahkan yang tersulit. Namun dengan fokus tinggi, kami percaya bisa memenangkan laga," tuturnya, seperti dikutip Goal Italia.


Sementara Madrid akan tetap mempertahankan formasi ofensif 4-3-3. Skema ini memng berisiko tinggi di lini pertahanan, sebagaimana mereka yang sudah kebobolan sampai 17 kali di Liga Champions musim ini.

Namun inilah pilihan terbaik pelatih Madrid, Zinedine Zidane, untuk mengeksploitasi kualitas dahsyat trio BBC (Bale - Benzema - Cristiano Ronaldo), di lini depan. Faktanya El Real merupakan tim tersubur di Liga Champions musim ini lewat koleksi 32 gol, dengan 20 gol di antaranya lahir lewat aksi BBC.

Kunci dari permainan ofensif Madrid sejatinya terletak di pos gelandang jangkar yang diperankan Casemiro. Pemain asal Brasil itulah pemula serangan timnya, karena jadi orang pertama yang ditugaskan memutus aliran serangan lawan. Dengan adanya Luka Modric dan Toni Kroos sebagai distributor bola handal, semakin mudahlah tugas trio BBC untuk melahap bola di depan gawang lawan.

Ketika segalanya tampak buntu, Zidane masih punya senjata rahasia dalam diri Isco. Keberadaan sang gelandang serang bakal mengubah formasi jadi 4-4-2 berlian, dengan dirinya jadi sosok No. 10. Ketika formasi itu diterapkan, fokus utama serangan bakal tertuju pada bantuan siginifkan bek sayapnya, melalui bola yang dialirkan Isco saat sentuh sepertiga lapangan.

Keyakinan tinggi pun diusung Zidane, yang percaya timnya bakal rengkuh tofi ke-12 Liga Champions dan pecahkan rekor dua kali juara beruntun. "Juve akan jadi lawan yang sangat berat dan segalanya tidak akan mudah. Namun kami adalah Madrid yang selalu ingin jadi juara. Kami sudah menunjukkan hasrat besar itu musim ini," tegasnya, seperti dilansir Marca.



Juve diprediksi akan membiarkan Madrid menguasai permainan di awal laga, sembari membaca arah permainan sang lawan. Jika sukses mencegah Los Merengues tak mencetak gol lebih dahulu, serangan balik La Vecchia Signora bakal sangat mematikan bahkan untuk tentukan hasil akhir laga.

Namun tentu saja jangan pernah menyangsikan daya gedor Madrid yang luar biasa, sekalipun lawan yang dihadapi adalah Juve sang pemilik pertahanan terbaik di Eropa. Sulit memprediksi siapa yang akan jadi kampiun, tapi La Fidanzata d'Italia layak percaya dengan kans-nya meski Los Balancos tetap jadi favorit.





TAHUKAH ANDA

Ini merupakan final Liga Champions keenam untuk Juve dan Madrid. Bersama AC Milan, jumlah itu terbanyak dari tim lainnya.

Juve hanya sanggup memenangkan satu dari lima final sebelumnya. Sebaliknya buat Madrid, yang selalu keluar sebagai juara.

Sepanjang sejarah Juve dan Madrid sudah bertemu sebanyak 18 kali, yang kesemuanya terjadi di Piala/Liga Champions. Hasilnya seimbang, dengan sama-sama koleksi delapan kemenangan dan dua sepasang hasil seri.

Juve merupakan tim dengan pertahanan terkuat di Liga Champions musim ini, karena baru kebobolan tiga gol. Sementara Madrid adalah tim tersubur, dengan sudah ceploskan 32 gol dalam perjalanan menuju final.

Pelatih Madrid, Zidane, merupakan pemain legendaris kedua klub. Dia melegenda selama lima musim bersama Juve dan Madrid.

Dengan laga dimainkan di Cardiff Stadium, Wales, Madrid diuntungkan menilik sejarah tim Spanyol yang selalu memenangkan final Liga Champions di Britania Raya.

Sementara Juve dibantu dengan siklus tujuh tahunan wakil Serie A menjuarai Liga Champions, sejak dimulai oleh AC Milan pada musim 1988/89.

 

Artikel Terkait: