ES PUNCAK JAYAWIJAYA TERANCAM LENYAP DAERAH

 Puncak Gunung Jayawijaya

Caption: Puncak Gunung Jayawijaya

WAMENA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wamena, Provinsi Papua mengimbau masyarakat adat dan pelaku perekonomian ikut mencegah hilangnya lapisan es di Puncak Jayawijaya. Sebab, jika tidak ditangani dengan baik, maka pada 2020 lapisan es akan hilang.

Kepala BMKG Wamena, Benny Marlissa mengatakan, penebangan hutan yang cukup tinggi berpeluang mengantar es Puncak Jayawijaya hanya sebagai sejarah. "Melalui aktivitas yang berlangsung terus tanpa pengawasan dari pemeritah maka dampaknya lapisan es yang tebal makin menyusut. Kita lihat di Wamena penebangan di mana-mana tanpa kontrol, karena masyarakat merasa bahwa mereka punya hak ulayat," katanya.

Benny menyadari penebangan hutan didasari pemenuhan kebutuhan ekonomi. Namun, ia mengharapkan adanya tindakan penanaman ulang pohon. "Bukan hanya masyarakat adat, masyarakat pengelola ekonomi yang hanya mengejar keuntungan tanpa mempedulikan lingkungan, sebaiknya jika ada penebangan ada juga penanaman ulang," katanya.

Ia mengatakan, rata-rata wilayah pegunungan Papua memiliki lapisan tanah yang sedikit dibandingkan bebatuan. Akibatnya, memerluhkan waktu yang lama untuk pertumbuhan pohon.

Sebelumnya, Kepala BMKG Pusat Andi Eka Sakya mengatakan, berdasarkan hasil observasi terakhir, November 2016, es di puncak itu menyusut 1,42 meter sejak Mei 2016. "Tebal es di Puncak Jayawijaya tersisa 20,54 meter. Es di puncak itu menyusut 4,26 meter dari November 2015 yang disebabkan el nono kuat pada 2015/2016," katanya.

Dia mengatakan, perlu langkah strategis dari pemerintah dan masyarakat dunia guna menekan pencairan es di Puncak Jayawijaya yang menjadi salah satu dari tiga puncak bersalju di khatulistiwa, selain di Benua Afrika dan di Peru. Langkah dimaksud adalah menghindari perilaku yang memicu pemanasan global seperti penebangan hutan liar dan tingginya produksi emisi karbon.(ant)

Artikel Terkait: