TRUMP DESAK ERDOGAN AGAR PASUKAN AS-TURKI TIDAK BENTROK INTERNASIONAL

Ratusan Warga Sipil Tewas Dalam Perang 2 Hari di Suriah. Foto diambil dari berbagai sumber.

Caption: Ratusan Warga Sipil Tewas Dalam Perang 2 Hari di Suriah. Foto diambil dari berbagai sumber.

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Rabu, mendesak Turki membatasi gerakan militernya di Suriah utara dan memperingatkannya untuk tidak menyebabkan benturan antara pasukan AS dan Turki dalam perang itu.

Namun, pengulas mengatakan bahwa Trump memiliki sedikit pengaruh untuk menghentikan serangan sekutu NATO di sana.

Serangan udara dan darat Turki di wilayah Afrin, Suriah, yang memasuki hari kelima, membidik pejuang YPG Kurdi, yang didukung AS, yang dilihat Ankara sebagai sekutu pemberontak Kurdi, yang diperangi di Turki tenggara selama beberapa dasawarsa.

Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan akan memperpanjang serangan ke Manbij, daerah terpisah dikuasai Kurdi di sekitar 100 km timur Afrin. Keputusan itu diperkirakan menempatkan pasukan AS di sana dalam bahaya dan mengancam rencana AS menenangkan wilayah Suriah.

Saat berbicara dengan Erdogan melalui telepon, Trump menjadi pejabat terakhir AS dalam mencoba mengendalikan serangan tersebut dan untuk secara tajam menunjukkan risiko dari dua kekuatan sekutu itu untuk terlibat konflik.

"Dia mendesak Turki untuk mengurangi, membatasi tindakan militernya, dan menghindari korban sipil," kata pernyataan Gedung Putih, "Dia mendesak Turki untuk berhati-hati dan menghindari tindakan yang mungkin menimbulkan risiko konflik antara pasukan Turki dan Amerika."

Amerika Serikat memiliki sekitar 2.000 tentara di Suriah.

Erdogan mengatakan kepada Trump bahwa Amerika Serikat harus menghentikan dukungan senjata kepada milisi YPG Kurdi Suriah, kata kantor presiden Turki tersebut.

Serangan tersebut telah membuka konflik baru dalam perang saudara Suriah multi pihak yang telah berlangsung tujuh tahun dan usaha A.S. yang rumit di Suriah.

Amerika Serikat berharap untuk menggunakan kontrol YPG terhadap wilayah tersebut untuk memberikannya kekuatan diplomatik yang dibutuhkannya untuk menghidupkan kembali perundingan yang dipimpin PBB di Jenewa dalam sebuah kesepakatan yang akan mengakhiri perang saudara Suriah dan akhirnya menyebabkan penggulingan Presiden Bashar Assad.

Amerika Serikat dan Turki, sekalipun mereka sendiri sekutu dalam Organisasi Pakta Atlantik Utara, memiliki kepentingan berbeda di Suriah, dengan Washington berfokus untuk mengalahkan kelompok IS dan Ankara ingin mencegah orang Kurdi Suriah mendapatkan otonomi dan mendorong pemberontakan Kurdi di tanahnya.

Dalam jangka pendek, para pengamat mengatakan, Amerika Serikat memiliki sedikit tekanan yang dapat diterapkan di Turki mengingat ketergantungan berat militer A.S. pada pangkalan Turki untuk melakukan serangan udara di Suriah melawan kelompok militan.

Amerika Serikat tidak memiliki mitra militer yang andal di Suriah selain kelompok Kurdi, kata Gonul Tol, direktur Pusat Kajian Turki di Institut "think tank" Timur Tengah Washington.

Pejabat AS, yang berbicara dengan syarat tidak disebutkan namanya, mengatakan bahwa Trump menghargai hubungannya dengan Erdogan, namun mengakui bahwa AS memiliki pengaruh terbatas dan bahwa pemerintah tidak mungkin menempatkan lebih banyak tentara atau operator ke Suriah, bahkan jika Turki melakukan pergerakan dari Afrin ke Manbij. ant

Artikel Terkait: