MENANG DARI ISIS, MARAWI TAKUT SERANGAN TUNGGAL INTERNASIONAL

Kondisi sebuah ruangan di dalam rumah yang diyakini sebagai markas pemimpin ISIS dan Maute di distrik Malutlut, kota Marawi, Filipina. Foto/tempo.

Caption: Kondisi sebuah ruangan di dalam rumah yang diyakini sebagai markas pemimpin ISIS dan Maute di distrik Malutlut, kota Marawi, Filipina. Foto/tempo.

MANILA - Lebih dari sepekan sesudah Filipina mengumumkan kemenangan atas petempur pendukung ISIS di Marawi, pejabat keamanan pada Jumat menyatakan keprihatinan atas serangan pelaku tunggal, dengan Australia mengeluarkan peringatan "ancaman tinggi" atas perjalanan ke Manila.

Pertempuran berlanjut antara tentara dengan petempur bertahan, yang merebut kota tepi danau di pulau selatan, Mindanao.

Lebih dari 1.100 orang, termasuk 165 tentara, tewas dalam perang lima bulan tersebut.

"Satu kekhawatiran sesudah Marawi adalah kemungkinan ancaman dari pelaku tunggal," kata juru bicara departemen pertahanan Arsenio Andolong kepada wartawan, dua hari setelah seorang Uzbek di New York menabrak pejalan kaki dan pesepeda dalam yang disebut pejabat Amerika Serikat sebagai tindakan "teroris".

Tentara tetap siaga tinggi setelah Presiden Rodrigo Duterte menyatakan lima kota di Mindanao menjadi kemungkinan sasaran gerilyawan setelah kalah di Marawi, tambahnya.

Pada Jumat, kedutaan Australia mengeluarkan nasihat perjalanan, yang memperingatkan akan ancaman besar serangan "teroris" di Filipina, termasuk Manila, ibukota negara kepulauan itu.

"Waspadalah terhadap kemungkinan ancaman di sekitar berbagai tempat, yang memiliki tingkat perlindungan keamanan rendah dan yang diketahui kemungkinan menjadi sasaran teroris," katanya.

Kedutaan itu meminta warga Australia mempertimbangkan kembali rencana perjalanan ke Mindanao timur dan hindari daerah tengah dan baratnya.

Nasihat tersebut serupa dengan yang dikeluarkan pada awal tahun ini, kata juru bicara tentara Mayor Jenderal Restituto Padilla.

"Itu hanya pengulangan, tidak ada ancaman nyata," tambahnya.

Pada dua hari lalu, tentara membunuh tangan kanan pemimpin Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon, amir petempur ISIS di Asia Tenggara, yang ditembak mati pada bulan lalu. Kematiannya mempercepat keruntuhan kelompok keras berkubu di Marawi itu, yang menyebabkan kekalahannya. ant

Artikel Terkait: