AKBAR TANDJUNG DIUSUNG CAWAPRES, EGOISME PARPOL NASIONAL

Akbar Tandjung. Foto diambil dari berbagai sumber.

Caption: Akbar Tandjung. Foto diambil dari berbagai sumber.

JAKARTA, Mediapembaharuan.com - Direktur Eksekutif Lembaga Survei Independen Nusantara, Yasin Muhammad berpendapat, munculnya nama Akbar Tandjung dalam survei calon wapres karena adanya egoisme pimpinan partai politik dalam bursa cawapres.

"Munculnya nama Akbar Tanjdung dalam bursa pencalonan wakil presiden mengisyaratkan kebutuhan tampilnya tokoh berpengalaman, baik dalam politik maupun pemerintahan," katanya di Jakarta, Kamis, ketika memberikan tanggapan atas munculnya nama Akbar Tandjung dalam survei Independent Data Survey (IDS) yang diumumkan awal pekan ini.

Munculnya nama Akbar Tandjung, kata Yasin, cukup tepat mengingat para ketua umum partai pendukung seperti berebut tiket cawapres guna mendampingi Jokowi. Jika situasnya buntu, Akbar bisa menjadi solusi alternatif.

Akbar akan berfungsi sama seperti Jusuf Kalla saat ini, wapres yang berada di belakang kepemimpinan Jokowi. "Kemampuan lobi dan jaringan yang sangat luas, pengalaman yang panjang, saya kira Akbar Tandjung dan Golkarnya, jadi solusi atas kebuntuan situasi," ucapnya.

Apalagi ketika ketua umum partai pendukung Jokowi, semuanya ingin menjadi cawapres.

Yasin menilai peran Akbar dalam konteks situasi ¿perebutan¿ cawapres saat ini bukan saja sebagai penengah, tetapi solusi bagi Jokowi. Peran ini, utamanya apabila terjadi kebuntuan atau ¿deadlock¿, maka kemungkinan itu akan membuat Akbar malah menjadi pilihan utama Jokowi.

Apalagi di Golkar, Akbar masih menjabat Wakil Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar. "Posisi ini sangat penting," ujarnya.

Yasin mengatakan, sebagai politisi, Akbar sudah sangat dikenal figur yang mampu meredam konflik. Bahkan kepemimpinannya di Golkar mampu mengantarkan partai ini jadi pemenang Pemilu.

Pengalaman di pemerintahan yang cukup lama serta pernah menjabat Ketua DPR. "Semua pengalaman ini sangat 'pas' menjadi pendamping Jokowi," imbuhnya.

Menurut Yasin, sampai saat ini Akbar masih aktif dan terus memberikan darma baktinya, baik bagi Partai Golkar maupun bagi pembangunan manusia Indonesia melalui serangkaian kegiatannya di berbagai daerah.

"Tanpa lelah, Akbar terus berbagi ilmu dan pengalaman, sampai ke kota kecamatan. Ini bisa ditiru tokoh lain," katanya.

Di samping itu, Yasin juga menyinggung posisi strategis Partai Golkar sebagai salah satu partai pengusung Jokowi. Selain Golkar, ada PDIP dan sederet partai lain yang sejak awal mendukung Jokowi.

Dipastikan situasi dan perkembangan menjelang penetapan cawapres semakin dinamis. "Namun, apabila PDIP memaksakan kehendaknya, maka konstelasi partai pendukung bisa berubah. Di sini, posisi dan peran Akbar makin berkibar dan peluang untuk dipilih Jokowi menjadi besar," tuturnya.

Sebelumnya, Peneliti Independent Data Survey (IDS) Dr Edhy Aruman pada Senin (23/4) mengumumkan hasil survei IDS mengenai elektabilitas capres dan cawapres. Untuk kandidat cawapres, muncul antara lain nama Akbar Tandjung.

Meski tingkat elektabilitasnya masih sekitar 2 persen, tetapi sudah mengalahkan nama Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang kini maju sebagai salah satu calon gubernur Jawa Barat. Akbar dalam survei ini juga mengalahkan Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar yang kini mengampanyekan diri sebagai cawapres. ant

Artikel Terkait: