PELAYANAN LAMBAN, ROZAK KECEWA ISTRI MENINGGAL PASCA BERSALIN NASIONAL

Abdul Rozak (36) hanya bisa berdiri sambil mata berkaca-kaca melihat jasad istrinya yang terbaring kaku di kamar jenazah RSUD Cengkareng, Jakarta Barat. Foto diambil dari berbagai sumber.

Caption: Abdul Rozak (36) hanya bisa berdiri sambil mata berkaca-kaca melihat jasad istrinya yang terbaring kaku di kamar jenazah RSUD Cengkareng, Jakarta Barat. Foto diambil dari berbagai sumber.

JAKARTA, Mediapembaharuan.com - Abdul Rozak (36) hanya bisa berdiri sambil mata berkaca-kaca melihat jasad istrinya yang terbaring kaku di kamar jenazah RSUD Cengkareng, Jakarta Barat, usai menjalani persalinan sekitar pukul 2.30 WIB dinihari tadi (Rabu, 18/4).

Secara mental, Rozak mengikhlaskan kepergian istri tercintanya bernama Sri Yuliawati (34) menghadap sang pencipta. Namun, ia menyayangkan lambannya tindakan medis yang dilakukan oleh pihak Puskesmas Kalideres.

"Awalnya, saya senang ketika mendengar suara bayi. Soalnya tidak diperbolehkan oleh pihak Puskesmas untuk mendampingi istri dalam proses persalinan. Tapi saya kaget, ketika dikasih tahu, istri saya mengalami pendarahan. Namun, nyawa istri saya tidak tertolong ketika sampai di  RSUD Cengkareng, karena terkesan lambat," tutur warga Jalan 20 Desember RT 06 RW 03 nomor 62 Kelurahan Pegadungan ini di RSUD Cengkareng.

Rozak mengaku sempat kaget ketika mendengar penjelasan dari pihak Puskesmas Kalideres bahwa istrinya tidak bisa menjalani operasi cesar.

"Harusnya mereka kan ahlinya yang mengerti, dan bisa dilakukan tindakan lain, jika kondisi si ibu tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Setahu saya biasanya, dokter menyarankan harus dioperasi, seperti operasi cesar. Tapi mereka beralasan tidak bisa dilakukan operasi cesar," ucap Rozak.

Sementara itu ketika dikonfirmasi, Irma, seorang petugas Puskesmas Kalideres yang turut serta mengantarkan korban ke RSUD Cengkareng berdalil operasi cesar tidak dilakukan mengingat kepala si bayi sudah terlihat sedikit di mulut rahim istri Rozak.

"Kami sudah berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan pertolongan. Ketika pendarahan pasien sudah kita jahit. Memang sempat kondisi membaik, sempat makan roti, namun karena darah mengalir terus dan sempat kita carikan rujukan, tapi kebanyakan rumah sakit menolak lantaran ruangan penuh. Dan akhirnya kita dapat di RSUD Cengkareng," jelasnya. Demikian dilansir dari Rmol. (Red)

Artikel Terkait: