FAHMI: KEKERASAN SEKSUAL DI INDONESIA POTRET BURAM MEMALUKAN NASIONAL

 Ilustrasi.

Caption: Ilustrasi.

JAKARTA - Ketua Bidang Kesejahteraan Rakyat DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahmi Alaydroes mengatakan kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia merupakan potret buram, mengerikan, bejat dan sangat memalukan.

"Kasus-kasus pornografi dan kekerasan seksual di Indonesia terjadi di berbagai kota dan daerah. Indonesia sudah masuk kondisi darurat kekerasan seksual pada anak," kata Fahmi melalui siaran persnya diterima di Jakarta, Senin.

Mengutip data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Fahmi menyebut kasus kekerasan seksual anak pada 2016 sebanyak 120 kasus, sedangkan pada 2017 tercatat 166 kasus.

Yang terbaru adalah kasus predator anak di Tangerang yang dilakukan WS alias Babeh. Dia melakukan kekerasan seksual terhadap 41 anak.

Selain kekerasan seksual terhadap anak, angka pemerkosaaan terhadap perempuan di Indonesia juga sangat tinggi.

Hasil survei yang dilakukan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan  (Komnas Perempuan) secara daring menyebutkan, dari 25.213 responden, sekitar 6,5 persen atau 1.636 orang menyatakan pernah diperkosa.

"Dari jumlah itu, 93 persen mengatakan mereka tidak melaporkan kejahatan tersebut, karena takut akibat-akibatnya," tuturnya.

Korban kekerasan seksual dan pemerkosaan, menurut Fahmi, setidaknya mengalami tiga dampak sekaligus.

Pertama adalah dampak psikologis. Menurut studi, 79 persen korban kekerasan dan pelecehan seksual akan mengalami trauma yang mendalam. Selain itu, stres yang dialami korban dapat menganggu fungsi dan perkembangan otaknya.

Kedua adalah dampak fisik. Kekerasan dan pelecehan seksual pada anak merupakan faktor utama penularan penyakit menular seksual. Selain itu, korban juga berpotensi mengalami luka internal dan pendarahan.

"Pada kasus yang parah, kerusakan organ internal dapat terjadi. Dalam beberapa kasus dapat menyebabkan kematian," katanya.

Ketiga adalah dampak sosial. Korban kekerasan dan pelecehan seksual sering dikucilkan dalam kehidupan sosial, hal yang seharusnya dihindari karena korban pastinya butuh motivasi dan dukungan moral untuk bangkit lagi menjalani kehidupannya. ant

Artikel Terkait: