KARYA CHAIRIL ANWAR SANG PENYAIR YANG TETAP EXSIS SEJARAH

Chairil Anwar sang penyair. Foto dari berbagai sumber.

Caption: Chairil Anwar sang penyair. Foto dari berbagai sumber.

JAKARTA -- Dalam buku Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45, kritikus sekaligus editor tersohor HB Jassin menyebut bahwa Chairil Anwar telah menulis total 76 sajak asli. Puisinya pun dikompilasi dengan ke dalam tiga buku berbeda.

Pada 1949, karya-karya Chairil diterbitkan menjadi dua buku, yakni Deru Campur Debu dan Kerikil-kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus. Setahun berselang, perusahaan penerbitan milik negara, Balai Pustaka, mencetak Tiga Menguak Takdir yang berisi puisi-puisi Chairil, Rivai Apin dan Asrul Sani.

Kepala Departemen Penerbitan Balai Pustaka Huri Yani mengungkapkan, seperti dikutip CNN Indonesia, secara kasar bisa diperkirakan bahwa setidaknya 12 ribu eksemplar buku Tiga Menguak Takdir telah terjual.

Selain itu, tepatnya pada 1948, Balai Pustaka juga menerbitkan buku Gema Tanah Air. Itu merupakan buku antologi puisi dan prosa karya penyair Angkatan 45 yang disunting oleh HB Jassin. Buku ini berhasil terjual sekitar 42 ribu eksemplar.

“Buku Tiga Menguak Takdir sudah tiga kali cetak ulang, terakhir tahun 2013. Adapun buku Gema Tanah Air yang disunting oleh HB Jassin sudah empat belas kali cetak ulang, dengan cetakan akhir tahun 2009,” ujar Huri".

Meski tidak ada strategi khusus untuk mempromosikan Tiga Menguak Takdir dan Gema Tanah Air, Huri menyebut masih ada saja pecinta sajak yang mencari kedua buku itu. Karenanya, Balai Pustaka masih akan terus mencetak ulang buku-buku itu mengingat pentingnya karya tersebut di dunia pendidikan.

“Kami juga berencana akan menerbitkan karya lengkap Chairil Anwar dengan sampul tebal dan elegan sebagai penghargaan atas pencapaiannya di dunia sastra Indonesia,” kata Huri.

Peran Vital HB Jassin

Editor Divisi Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka Mirza Ahmad Haviko mengungkapkan bahwa HB Jassin memiliki peran vital dalam mengangkat nama Chairil Anwar sebagai penyair. Ia bercerita, sajak atau puisi Chairil pertama kali dikurasi oleh HB Jassin yang kemudian terkenal sebagai kritikus sastra Indonesia yang sangat disegani.

“Melalui majalah Panji Pustaka, HB Jassin menulis esai berjudul Beberapa Sadjak Ekspesionistis yang isinya pembahasan sajak-sajak Chairil Anwar. 

Sajak-sajak yang dibahas belum pernah terbit di manapun dan tampaknya didapat HB Jassin langsung dari Chairil Anwar,” ujarnya.

Mirza bercerita, HB Jassin menjadi kurator dan kritikus pertama atas sajak atau puisi Chairil. Saat itu Jassin bekerja di Balai Pustaka dan Chairil kerap singgah ke kantor sahabatnya itu. 

Menurutnya, kritik sastra Jassin memperkenalkan dan memberikan pemahaman sajak Chairil kepada masyarakat.

“Sastrawan Ali Audah dalam esai berjudul HB Jassin Perjalanan Menatap Sastra Dunia menyebutkan bahwa pada awalnya sajak Chairil hanya disebut sebagai sajak liar yang tidak dapat dipahami isinya,” kata Mirza.

Ia melanjutkan, “Ada cerita mengenai sajak Aku yang pertama kali dipublikasikan melalui majalah Panji Pustaka di zaman Jepang.

Sajak tersebut terpaksa diganti judulnya menjadi Semangat agar dapat lolos sensor pemerintah pendudukan Jepang karena konon judul Aku sangat vulgar menunjukkan tendensi individualisme yang sangat tak disukai Jepang.” (Red)


Artikel Terkait: