DESAKAN EKONOMI, PETANI LADA DI PANGKALPINANG BANTING SETIR JADI PEDAGANG BABEL

Ilustrasi - Petani Lada. Foto diambil dari berbagai sumber.

Caption: Ilustrasi - Petani Lada. Foto diambil dari berbagai sumber.

PANGKALPINANG - Petani lada di Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung beralih profesi menjadi pedagang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarga.

"Harga lada saaat ini merosot Rp60 ribu per kilogram sehingga jika lada dijual sekarang bisa rugi," ujar Makruf, salah seorang warga Kelurahan Tuatunu, Pangkalpinang, Jumat.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup Makruf harus berjualan kelapa di Pasar Pagi Pangkalpinang.

"Harga lada yang murah menambah beban hidup para petani terlebihnya saat ini harga kebutuhan pokok naik. Supaya keluarga saya tetap bisa makan jadi saya harus pintar-pintar cari peluang yang bisa menghasilkan uang salah satunya berjualan kelapa," katanya.

Ia menyebutkan, berjualan kelapa merupakan profesi sampingan sambil menunggu harga lada kembali normal.

"Kalau harga lada sudah normal saya kembali lagi menanam lada dan hasil panen yang disimpan saat ini juga akan dijual supaya tidak merugi," katanya.

Begitu juga dengan petani lainnya, Arman mengeluhkan harga lada yang tak kunjung naik dan batang ladanya yang terancam menguning sehingga ia harus mencarikan pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhannya.

"Untuk sementara saya berjualan sayuran keliling untuk mendapatkan penghasilan," katanya.

Harga lada sekarang tidak sesuai dengan biaya produksi sehingga jika dijual dengan harga murah petani rugi.

Ia berharap kepada pemerintah untuk lebih serius berupaya mengembalikan harga lada seperti pada saat lada masih jaya yakni Rp150 ribu per kilogram.

"Kalau harga lada mahal petani bisa lebih fokus lagi untuk mengembangkan lada," katanya. ant

Artikel Terkait: