"IBU KITE" PENUHI UNDANGAN SILATURAHMI WARGA TANGSI BABEL

Srikandi Pangkalpinang pemilik tagline

Caption: Srikandi Pangkalpinang pemilik tagline "IBU KITE" bakal calon walikota Ir. Endang Kusumawaty, Minggu kemarin memenuhi undangan silahturahmi warga belakang Tangsi Kelurahan Bukit Sari Kecamatan Tamansari. Foto/MP.

PANGKALPINANG - Waktu begitu berharganya bagi tim cinta IBU KITE, di hari Minggu kemarin (19/11/2017) mereka tetap menjadwalkan pertemuan silaturahmi "Ibu Kite" dengan warga Pangkalpinang.

Srikandi Pangkalpinang pemilik tagline "IBU KITE" bakal calon walikota Ir. Endang Kusumawaty, Minggu kemarin memenuhi undangan silahturahmi warga belakang Tangsi Kelurahan Bukit Sari Kecamatan Tamansari dan gang Kakap Kelurahan Ampui Kecamatan Pangkalbalam.

Sebelumnya hari Sabtu lalu (18/11/2017) Endang juga bersilaturahmi dengan warga perumahan Green Papin Air Itam Kecamatan Bukit Intan dan warga kelurahan Bukit Besar kecamatan Girimaya Kota Pangkalpinang.

Kunjungan silaturahmi Endang bersama tim cinta Ibu Kite selalu disambut antusias dan hangat oleh warga yang mengundang.

Dan disetiap silahturahmi Endang selalu mendapatkan doa dan dukungan agar ia tetap semangat dan terus berjuang untuk membangun Kota Pangkalpinang yang lebih baik dan hebat.

" Tenang bai Bu, kami pileh ibu Pilkada tahun adep, karena kami pecayak wanita lebih ngerti kenek urang bini " ujar Mimi warga Bukit Besar Kecamatan Girimaya, (Sabtu,18/11/2017)

Pantauan Jurnalis sahabat Ibu Kite, hampir seluruh warga yang hadir menginginkan kota Pangkalpinang  dipimpin oleh walikota dari seorang perempuan.

" Kami ingin mencoba kali-kali seorang Ibu yang jadi walikota Kota Pangkalpinang, kami mau tahu bagaimana kota Pangkalpinang dipimpin Ibu kite, InsyaAllah kota Pangkalpinang ada perubahan menjadi lebih hebat lagi, "kata  Aladin salah satu tokoh masyarakat warga kelurahan Ampui kemarin sore (19/11/2017).

Sementara itu didalam dialog interaktif seorang ustadz mengatakan bahwasanya tidak ada larangan dalam ajaran agama islam. seorang perempuan menjadi pemimpin disuatu di daerah atau menjadi kepala daerah.

" Hanya dalam acara keagamaan seorang perempuan tidak diperbolehkan menjadi pemimpin misalnya menjadi mengimani laki-laki dalam sholat berjamaah," pungkas Aslam. (MP-AAL)


Artikel Terkait: