CERITA MISTIS PANTAI MATRAS, TELAN KORBAN LAGI BABEL

Tim gabungan mengevakuasi jenazah bocah korban tenggelam di Pantai Matras Sungailiat Bangka, Kamis (24/08/2017). Foto/Bangka pos.

Caption: Tim gabungan mengevakuasi jenazah bocah korban tenggelam di Pantai Matras Sungailiat Bangka, Kamis (24/08/2017). Foto/Bangka pos.

BANGKA - Bocah laki-laki bernama Marko Aditia (9) ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, Kamis (24/8/2017).

Jasadnya mengapung di tengah laut, sekitar 1 mil dari bibir Pantai Matras, Sungailiat, Bangka. Marko terseret arus Pantai Matras, seperti dikutip Bangka pos, Rabu (23/8/2017) petang.

Dia bersama keluarganya dari Baturusa Kecamatan Merawang berkunjung ke Pantai Matras Rabu sore. Usai mandi di pantai, pukul 17.00 WIB,  kakek korban mengajak Marko ke tepi pantai.

Namun ajakan kakek ditolak korban. Sang kakek pun pergi sendirian ke pemandian air tawar tersebut. Sedangkan korban bersama dengan tiga orang keluarganya tetap bertahan, mandi di pantai tadi.

Selang beberapa menit kemudian, kakek korban melihat korban bersama dengan tiga keluarga yang dimaksud terseret gelombang ke tengah laut.

Sang kakek berusaha menyelamatkan mereka. Sayang hanya tiga orang yang berhasil ditarik kakek. Sementara sang cucu, Marko Aditia keburu menjauh ke tengah laut, lalu menghilang dibawa arus.

Marko bukan korban pertama yang tewas di Pantai Matras. Dari catatan bangkapos.com, dalam beberapa tahun terakhir sudah dua orang yang meninggal di pantai dengan ombak tinggi itu.

Pada Minggu (19/7/2015), Chauli (70) meninggal terseret ombak Pantai Matras. Dia bersama anak dan keluarganya mandi di pantai.

Tiba-tiba tubuhnya hilang seketika dari permukaaan air laut. Keluarga dan warga serta aparat Pos Pam Terpadu Pantai Matras berusaha menolong korban.

Korban kemudian ditemukan, dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Medika Stania Sungailiat.

Tiga pengunjung yakni Anto (30) dan Dendi (20) asal Bandung dan Fauzan (14) dari Surabaya mandi di pantai.
Dendi diduga tak bisa berenang menghilang terseret gelombang. Tubuh Dendi terlihat timbul tenggelam di tengah laut.

Sedangkan Anto dan Fauzan berhasil bertahan. Namun, melihat Dendi terseret gelombang, Fauzan dan Anto panik.

Fauzan lari ke tepi pantai berteriak memohon bantuan, sedangkan Anto memilih menangkap tubuh Dendi.

Tapi malang, justru nyawa Anto yang tak terselamatkan. Pengunjung pantai dan sejumlah tim penolong, langsung berusaha menyelamatkan Anto dan Dendi.

Keduanya berhasil ditarik arah batu sisi pantai, dan kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Nywawa Anto tak dapat diselamatkan.

Cerita mistis kerap mewarnai 'keangkeran' Pantai Matras.

Dari mulut ke mulut, berkembang cerita rakyat soal makhluk gaib berwujud perempuan peminta tumbal untuk dijadikan suami. Itu pula yang kemudian disebut-sebut penyebab munculnya korban dari laki-laki.

Seorang dukun Kampung Matras Sungailiat yang disebut-sebut sebagai juru kunci pantai, Jalaluddin alias Mang Jalal (68), ditemui Bangka Pos Group di kediamannya, Rabu (14/9/2016) lalu membagi ceritnya.

Menurut Mang Jalal, keberadaan makhluk gaib penunggu Pantai Matras, bukan hal yang asing baginya.

Sebagai seorang dukun kampung, anak dari dukun kampung sebelumnya, almarhum Mang Ubir, kisah mistis di pantai itu, menjadi catatan tersendiri baginya.

Menurutnya, belasan makhluk halus di alam mistis Pantai Matras.

Namun dari sekian banyak makhluk yang dimaksud, hanya satu yang sering mengganggu.

"Mahluk halus yang sering ganggu, berwujud perempuan, biasa disebut putri. Makhluk satu ini yang paling sering minta korban (tumbal)," kata Mang Jalal.

Kenapa makhluk gaib wujud perempuan tadi suka pengunjung laki-laki? Mang Jalal menyebut alasan terawangan mistisnya.

"Karena untuk dijadikan suaminya, makanya korban paling banyak yang mati tenggelam adalah pengunjung laki-laki. Dari zaman dulu memang angker (Pantai Matras), tiap tahun pasti ada orang yang meninggal (di Pantai Matas)," kata ayah delapan anak ini, empat di antaranya meninggal.

Selama menjadi dukun Kampung Matras, Mang Jalal mengakui sudah banyak korban tewas di pantai ini.
Terlebih, ketika ayah Mang Jalal, yaitu Mang Ubir, masih menjabat dukun kampung, sebelum mewariskan kepandaian spiritual padanya.

"Kalau dihitung-hitung dari mulai bapak saya masih hidup (masih jadi dukun kampung), sudah puluhan yang mati di Pantai Matras," katanya.

Sementara ketika tahta dukun kampung beralih dari Mang Ubir pada Mang Jalal, korban tetap bermunculan.

Saat insiden terjadi, Mang Jalal hanya dapat membantu melakukan pencarian secara ghoib agar jasad korban cepat ditemukan. (Red)
 

Artikel Terkait: