MELESTARIKAN TRADISI RUTIN USAI SHALAT IDUL FITRI DI BABEL BABEL

 Ilustrasi (nganggung). Foto/klikbabel.

Caption: Ilustrasi (nganggung). Foto/klikbabel.

PANGKALPINANG - Masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki tradisi yang khas dalam merayakan lebaran Idul Fitri seperti melaksanakan "Nganggung" setelah sholat Ied, ziarah kubur, silaturahmi ke rumah sanak saudara dan rekan sampai sampai satu minggu, hingga rekreasi rutin ke tempat-tempat wisata.

Tradisi rutin usai Sholat Id adalah "Nganggung" di masjid-masjid yaitu ungkapan rasa syukur dan silaturahmi antar warga yang menjadi jamaah masjid tersebut.

Masjid Al-Qomarul Anuar di Kelurahan Pintu Air, Kecamatan Rangkui, Pangkalpinang merupakan salah satu masjid yang setiap tahunnya rutin melaksanakan "Nganggung". Dalam kesempatan ini masyarakat sengaja membawakan dulang dan rantang yang berisi makanan Lebaran dari rumah masing.

Salah satu warga Kelurahan Pintu Air, Matcik mengatakan bahwa kegiatan "Nganggung"  ini sudah menjadi tradisi masyarakat Kelurahan Pintu Air.

"Ngangung sudah menjadi tradisi masyarakat kami setiap ada momentum keagamaan yang diselenggarakan oleh pengurus Masjid Al- Qomarul Anuar Kelurahan Pintu Air," katanya.

Tradisi "Nanggung" yang dilaksanakan di Masjid tersebut juga bisa dijadikan kesempatan bagi masyarakat agar bisa silaturahmi antar warga yang mungkin dalam kehidupan sehari-harinya sangat sibuk.

Nanggung merupakan kesempatan yang baik untuk mempererat tali persaudaraan sesama masyarakat Kelurahan Pintu Air, selain itu, kegiatan itu juga bisa membuat lebih dekat dan saling mengenal antar tetangga serta memakmurkan masjid.

Sementara salah satu tokoh pemuda di Kelurahan Pintu Air, Pangkalpinang, Edi Riduan menambahkan bahwa kegiatan "Nganggung" ini jika tidak dilestarikan maka akan hilang dan generasi muda selanjutnya tidak mengenal lagi "Nganggung"

"Setiap tahunnya yang melakukan tradisi 'Nganggung' mulai sedikit dan ciri khas kegiatan ini yaitu membawa dulang sudah mulai jarang karena sekarang banyak bawa rantang dan kotak sebagai pengganti dulang," katanya.

Edi berharap ke depan masyarakat harus lebih peduli dan melestarikan budaya tersebut agar "Nganggung" yang merupakan kebudayaan kita tidak punah atau diambil oleh negara tetangga.

Jika bukan kita yang peduli, siapa lagi. Mari kita lestarikan, karena ini merupakan warisan budaya kita yang wajib dijaga hingga masa yang akan datang," katanya.

Selain kegiatan "Nganggung", kebiasaan rutin yang tidak terlewatkan oleh masyarakat Bangka setiap Lebaran Idul Fitri yaitu ziarah ke kuburan saudara dan sanak keluarga mereka.

Setiap selesai Solat Id, sejumlah tempat pemakaman umum (TPU) di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga dipenuhi oleh para peziarah.

Berziarah ke makam kelurga merupakan kegiatan yang selalu rutin dilaksanakan setiap tahun setelah Sholat Ied Idul Fitri oleh masyarakat di Kota Pangkalpinang.

Hampir semua masyarakat yang datang ke TPU tersebut untuk berziarah ke kuburan kedua orang tua mereka untuk mendoakannya dan merupakan salah satu cara untuk tetap mendekatkan diri kepada Allah SWT, bahwa semua yang hidup akan kembali kepadaNya.

Menurut salah satu warga Kecamatan Rangkui, Hendra, ziarah ini selalu dilakukan keluarganya setiap tahun setelah Sholad Ied untuk mendoakan orang tua dan keluarga yang sudah meninggal dunia.

"Dengan ziarah ini, kami berharap Allah SWT memberikan kelapangan dan ketenangan kepada arwah orang tua kami di alam barzah serta terhindar dari siksaan kubur," katanya.

Kebiasaan lainnya yang dilakukan masyarakat saat Lebaran Idul Fitri adalah bersilaturahmi ke rumah sanak saudara, tetangga dan rekan kerja hingga satu minggu setelah Lebaran.

Silaturahmi yang dilaksanakan masyarakat tersebut, selain sebagai tradisi juga sebagai ajang untuk saling bertemu seluruh keluarga yang biasanya sulit berkumpul karena sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

Bagi sebagian besar masyarakat, silaturahmi saat Lebaran Idul Fitri merupakan momen yang sangat penting dan tidak boleh terlewatkan untuk berkumpul bersama keluarga besar.

"Hanya saat Lebaran inilah kami bisa saling mengunjungi seluruh keluarga, termasuk tetangga dan rekan-rekan kerja, karena hari-hari biasanya cukup sulit mencari waktu untuk bersilatrahmi," ujar salah satu warga Asal Kecamatan Merapen, Aan.

Hingga H+5 Lebaran Idul Fitri, masih banyak warga yang saling berkunjung satu sama lainnya. Biasanya silaturahmi ini akan terus berlangsung hingga akhir masa liburan atau cuti bersama Lebaran Idul Fitri.

    
 Berkunjung ke tempat wisata

Tradisi rutin yang tidak pernah terlewatkan oleh masyarakat Bangka dalam suasan Lebaran Idul Fitri yaitu berkunjung ke tempat-tempat wisata yang ada di daerah itu.

Salah satu objek wisata yang menjadi favorit masyarakat Bangka yakni Pantai Pasir Padi yang terletak di Ibu Kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kota Pangkalpinang.  

Pasir Padi memang merupakan salah satu tempat wisata yang menjadi tujuan masyarakat baik dari Pangkalpinang maupun kabupaten lainnya, sementara tiket relatif murah yakni sepeda motor Rp2.000 dan mobil Rp4.000.

Selain itu, berbagai fasilitas pendukung juga sudah banyak disediakan seperti gazebo dan warung makan serta fasilitas pendukung lainnya seperti mushalla dan WC umum.

Tika, seorang pengunjung mengaku memilih Pantai Pasir Padi karena memang merupakan salah satu tempat favorit keluarganya untuk berlibur dan menikmati pemandangan.

Menurut dia, Pantai Pasir Padi merupakan tempat menarik bagi anak-anak untuk bermain air karena ombaknya yang sangat tidak terlalu tinggi dan airnya tidak dalam, sehingga keluarganya cukup tenang dalam mengawasi anak-anak bermain di pantai itu.

"Selain fasilitasnya cukup lengkap, pantai ini juga bagus untuk melewati masa liburan bersama keluarga. Selain itu, ombaknya juga sangat tenang dan kecil," ujarnya.

Objek wisata lainnya yang menjadi favorit masyarakat menghabiskan masa liburan Lebaran Idul Fitri yaitu Pantai Tongaci yang terletak di Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka. Pantai ini menyediakan pemandangan yang cukup unik dan merupakan satu-satunya pantai di Pulau Bangka yang memiliki tempat penangkaran Tukik.

Selain itu, di Pantai Tongaci juga terdapat museum barang-barang antik dan perpustakaan buku kuno yang menjadi salah satu tujuan wisatawan berkunjung di pantai itu.

Asma, seorang pengunjung asal Desa Sengir, Kabupaten Bangka Selatan mengatakan dirinya bersama keluarga sengaja jauh-jauh datang ke pantai itu untuk berlibur dan melihat tempat penangkaran tukik yang dimiliki di pantai lainnya.

"Cuma pantai ini yang ada tempat penangkaran tukik. Selain itu, di pantai ini juga terdapat museum banrang-barang antik yang cukup sulit kami jumpai di Bangka Belitung," katanya.

Tradisi berkunjung ke objek wisata khususnya pantai ini memang bukan pemandangan asing lagi di Pulau Bangka. Hampir setiap liburan hari besar seperti Lebaran Idul Fitri, setiap tahunnya sebagian besar pantai di pulau Bangka ramai dikunjungi pengunjung.

Lebaran Idul Fitri dirayakan dengan beribadah, berkumpul dengan keluarga, bersilaturahmi dengan kerabat dan juga untuk berlibur, pesiar serta menjaga tradisi.ant

Artikel Terkait: