POLDA BABEL GEREBEK GUDANG TIMAH ILEGAL BABEL

Jajaran kepolisian daerah Bangka Belitung mengamankan 7,7 ton pasir timah ilegal di Desa Lubuk Besar Bangka Tengah.

Caption: Jajaran kepolisian daerah Bangka Belitung mengamankan 7,7 ton pasir timah ilegal di Desa Lubuk Besar Bangka Tengah.

LUBUK BESAR - Kepolisian Daerah Bangka Belitung menggerebek gudang timah ilegal di Dusun Simpang, Desa Lubuk Besar Kabupaten Bangka Tengah, Selasa siang.

Dirkrimsus Polda Babel Kombes Mukti Juharsa di Lubuk Besar, Selasa, mengatakan gudang timah itu diketahui milik Supidi.

Pada operasi itu, pihaknya mengamankan 7,7 ton bijih timah yang sudah dikemas di dalam karung.

"Penggerebekan ini kami lakukan karena diduga pemiliknya menampung timah dari para penambang yang beroperasi di hutan lindung dan hutan konservasi, untuk sementara kami mengamankan barang bukti dan satu tersangka yaitu pemilik gudang," ujarnya.

Pihaknya terus mengembangkan peristiwa itu sebagai bukti bahwa polisi tetap berkomitmen menindak aktivitas penambangan bijih timah di hutan lindung dan konservasi.

"Barang bukti bijih timah itu kami sita dan dibawa ke Polda Bangka Belitung untuk penindakan hukum lebih lanjut, kami ingatkan warga jangan menambang di hutan lindung," ujarnya.

Kepala Desa Lubuk Besar Asma Mitra mengatakan penggerebekan itu dilakukan di gudang yang berada tepat di belakang rumah pemiliknya.

"Saya diberitahu pihak RT bahwa ada banyak polisi menggerebek gudang di rumah Supidi, saya langsung datang ke lokasi untuk memastikannya," ujarnya.

Ia mengatakan Supidi sudah melakukan pembelian timah dalam dua tahun ini.

"Supidi juga membeli timah dari para warga setempat yang melimbang timah, sehingga warga merasa terbantu," ujarnya.

Polda Babel dalam melakukan penggerebekan tersebut melibatkan satu peleton personel dari Brimobda Bangka Belitung yang dibantu sejumlah personel dari Polres Bangka Belitung.

Penggerebekan dan penggeledahan gudang timah milik Supidi tersebut sempat mendapat protes dari puluhan warga setempat. Bahkan, warga sempat menghalangi aparat kepolisian.

Namun setelah dilakukan mediasi dan diberikan penjelasan oleh aparat, warga bisa memahami.(red)

Artikel Terkait: