KASAT RESKRIM POLRES BASEL TERTANGKAP TANGAN PUNGLI RP 20 JUTA BABEL

 Tim Saber Sedang melakukan penggeledahan

Caption: Tim Saber Sedang melakukan penggeledahan

MEDIAPEMBAHARUAN.COM, PANGKALPINANG - Tim Operasi Saber Pungli  Kepolisian Daerah (Polda) Bangka Belitung (Babel) berhasil menangkap tangan 5 anggota yang terbukti melakukan pungli. Dari kelima anggota yang ditangkap terdapat 1 orang yag diduga merupakan salah seorang KAsat Reksrim yang bertugas di Polres Bangka Selatan (Basel), yaitu AKP EYP. 

Demikian diungakpan oleh Ketua Tim Saber Polda Babel, Kombes Pol Mustofa melalui Kabid Humas Polda Babel, AKBP Abdul Mun'im kepada wartawan, Selasa (13/12) di Mapolda Babel. " Tim Saber Polda Babel dibawah kepemimpinan bapak Irwasda berhasil melakukan Operasi Tangka Tangan (OTT) terhadap anggota yang melakukan Pungli. Ada 5 anggota yang di tangkap terdapat 1 anggota yang saat ini sedang menjabat sebagai Kasat Reksrim Polres Basel, yaitu AKP EYP," ujar Abdul

Abdul menjelaskan bahwa AKBP EYP di tertangka tangan melakukan pungli bersama 4 orang anggotanya yaitu Ipda Per, Bripka BS dan AS. " Mereka tertangkap tangan dalam kasus pungli terhadap kasus penangkapan 4 orang tersangka warga Sukadamai, Toboali dalam kasus judi jenis Qiu Qiu pada tanggal 26 September 2016 lalu. Pada tanggal 6 Desember 2016, sekitar pukul 18.00 Wib terjadi kesepakatan penyerahan uang sebesar Rp 20.000.000 antara pihak tersangka dengan pihak Sat Reskrim Polres Basel," bebernya 

" Setelah pihak tersangka menyerahkan uang senilai Rp 20.000.000 tersebut, perkara kasus tidak dilanjutkan dan para tersangka kemudian dilepaskan.  Dengan adanya kejadian tersebut Kasat Reskrim Polres Basel diamankan terkait Pungli tersebut," imbuhnya 

Selain itu lanjut Abdul, Tim Saber Pungli Polda Babel juga mengamankan 1 personil anggota Polda Babel dari Satker Tahti atas nama Briptu Be yang tertangkap tangan melakukan pungli uang senilai Rp 5.000.000. Modus yang terjadi dalam kasus Britu Be adalah dimana pelaku memberikan pinjaman handphone kepada salah seorang tahanan dan kemudian pelaku minta sejumlah uang. " Tanggal 24 November 2016 lalu, pelaku meminta uang sejumlah Rp 5.000.000 dengan alasan untuk melunasi utang di toko bangunan. Dengan memberikan uang tersebut, tahanan diberikan kekebebasan untuk mempergunakan  handphone didalam tahanan untuk melakukan komunikasi dengan pihak luar," pungkasnya 

Artikel Terkait: